Mondok di Pesantren Salah Satu Solusi Pembelajaran Intensif Saat Musim Pandemi

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Covid-19 adalah suatu wabah yang dapat menyebabkan penyakit menular berupa infeksi pada saluran pernapasan manusia yang disebabkan oleh virus. Wabah Covid-19 sudah melanda dunia dan Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena wabah Covid-19 tersebut pada tanggal 2 Maret 2020. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, salah satunya adalah negara Indonesia memberikan dampak yang terlihat nyata dalam berbagai bidang yaitu di antaranya ekonomi, sosial, pariwisata, dan pedidikan. Pelaksanaan pendidikan di Indonesia dalam masa pandemi Covid-19 mengalami beberapa perubahan yang terlihat nyata.


John Dewey (1958) berpendapat bahwa : Pendidikan adalah proses yang tanpa akhir (education is the proses without end), dan pendidikan merupakan proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental baik menyangkut daya pikir daya intelektual maupun emosional perasaan yang diarahkan kepada tabiat manusia dan kepada sesamanya. Oleh karena itu, proses belajar menjadi kunci untuk keberhasilan pendidikan agar proses belajar menjadi berkualitas membutuhkan tata layanan yang berkualitas (Sagala, Syaiful. 2013).

Berdasarkan pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa pendidikan harus berjalan dalam keadaan apapun. Untuk mengurangi angka penyebaran Covid-19 dan kegiatan pendidikan dapat berjalan seperti biasanya maka pemerintah melakukan beberapa upaya untuk mengurangi angka tersebut yang salah satunya diterapkan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dengan sistem online atau sistem dalam jaringan (daring) sejak bulan Maret 2020. Sistem pembelajaran tersebut dilakukan tanpa tatap muka secara langsung, melainkan dilakukan dengan sistem pembelajaran jarak jauh. Dengan sistem pembelajaran jarak jauh, peserta didik tidak diharuskan atau diwajibkan untuk datang ke sekolah maupun kampus untuk melaksanakan pembelajaran. Banyak sarana yang pada akhirnya diterapkan oleh tenaga pendidik untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara jarak jauh. Sarana pembelajaran jarak jauh tersebut tidak dapat dihindari dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Sarana pembelajaran tersebut di antaranya aplikasi google meet, aplikasi zoom, google classroom, youtube, televisi, maupun media sosial whatsapp. Di mana semua sarana tersebut dihasilkan dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin maju.

Di sisi lain, problematika pembelajaran secara daring terus bermunculan, pokok terbesarnya adalah ketidaksiapan antara orang tua sebagai pengasuh saat pembelajaran anak di rumah dan pihak sekolah sebagai penyelenggara pendidikan. Belum lagi problematika sarana dan prasarana pendidikan secara online dengan jaringan internet yang belum menjangkau secara maksimal ke seluruh wilayah di Indonesia. Orang tua di rumah harus berbagi waktu dengan pekerjaan rumah dan kesibukan lain sebagai pegawai atau wirausaha lainnya. Belakangan muncul beberapa “protes” orang tua akan besarnya biaya pembelajaran secara online yang mengandalkan kuota internet dan gadget yang diperlukan oleh setiap anak.

Oleh karena itu, salah satu solusi yang tepat agar pembelajaran secara tatap muka atau minimal mendapatkan pendampingan secara rutin hanya dapat dilakukan di lingkungan pesantren. Tentu saja terdapat prasyarat yang harus dipenuhi oleh pihak Pondok Pesantren akan keamanan dan keselamatan serta kesehatan santri saat belajar. Di antara lain, pihak pesantren harus menerapkan system “lockdown” di lingkungan pondok pesantren untuk tidak menerima tamu bahkan kunjungan orang tuanya sekalipun dengan waktu tertentu.

Di Pondok Pesantren Sabilurrosyad, akhir akhir ini terdapat lonjakan peserta didik baru sebagai “titipan amanah” dari orang tua santri khususnya santri tingkat Ibtidaiyah (SD) untuk mondok di dalam komplek pondok pesantren. Meningkatnya jumlah santri baru di Pondok Pesantren Sabilurrosyad ini  merupakan salah satu dampak dari problematika ketidaksanggupan orang tua dalam memanage waktu untuk bekerja dan memantau anak dalam proses pembelajaran online di rumah. Salah satu wali santri mengatakan  “anak di rumah tidak terpantau proses belajarnya, selain banyaknya waktu luang selama musim pandemi ini menjadikan anak anak lebih banyak bermain di rumah, menonton youtube dan bersosial media. Saya tidak mempunyai waktu banyak untuk mendapingi anak saya di rumah secara maksimal. Saya lebih memilih memasukkan anak saya ke pondok pesantren karena lebih terjamin kegiatan kesehariannya daripada di rumah ” .  

Bagi Yayasan Pendidikan Sabilurrosyad, fenomena meningkatnya jumlah santri Sabilurrosyad merupakan bentuk dari meningkatnya kepercayaan yang tinggi bagi orang tua untuk memondokkan anaknya di pondok pesantren terlebih khusus di pondok ini. Selain itu, hal tersebut merupakan tantangan bagi institusi pesantren untuk meningkatkan mutu pendidikan dan system yang lebih terintegrasi lagi antara pendidikan yang khusus diselenggarakan di pesantren dan sekolah. “ pada saat saat pandemi seperti sekarang ini, kita memang sedang menyiapkan langkah langkah baru dalam hal pembenahan system yang sudah berjalan. Ke depannya kita mengambil kesempatan dalam waktu pandemi ini untuk selain melakukan evaluasi juga melakukan rekonstruksi ulang dalam hal pendidikan khususnya. Kita tidak sedang menunggu masa pandemi usai, tetapi kami terus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dan lebih bermanfaat lagi bagi masyarakat luas “ Ujar Ust. Basuni, S.Ag. M.Pd.i sebagai salah satu pengurus Yayasan Sabilurrosyad. 

 

 

 

Berita Lainnya

Tamu dari Rajadesa

Siang menjelang acara penyematan lencana Pramuka Garuda di lapangan komplek Pesantren Sabilirrosyad, Ust. Basuni sebagai