Paradigma Pendidikan Islam

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Pendidikan Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis Nabi saw bertujuan untuk membentuk manusia seutuhnya,yakni manusia beriman dan bertaqwa kepada Allah swt serta untuk memelihara nilai-nilai kehidupan sesama manusia agar dapat menjalankan seluruh kehidupannya sebagaimana yang telah ditentukan allah dan rasul-Nya, demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Untuk memahami hakikat pendidikan Islam, maka harus memahami unsur historis pendidikan Islam itu sendiri.Mempelajari sejarah pendidikan Islam sangatlah penting terutama bagi pelajar-pelajar agama Islam dan pemimpin-pemimpin Islam pada era globalisasi seperti saat sekarang ini. Dengan mempelajari sejarah pendidikan Islam akan dapat mengetahui sebab kemajuan maupun kemunduran Islam baik dari cara pendidikannya maupun cara ajarannya. Mempelajari sejarah pendidikan Islam harus bermula dari generasi pertama yaitu pendidikan Islam pada zaman Nabi Muhammad saw dan masa khulafaurrasyidin.

Pendidikan pada masa Rasulullah(610-632 M)ketika di Makkah, bertempat di rumah Rasul sendiri, rumah al-Arqam bin Abi Arqam, kuttab (rumah guru, halaman/pekarangan mesjid), Inti materi yang diajarkan: keimanan, ibadah dan akhlak, juga baca-tulis dan berghitung untuk tingkat dasar, al-Quran, dasar-dasar agama untuk tingkat lanjut. Guru disebut mu’allim atau mu’addib, serta tidak dibayar, dan bagi tingkat dasar gurunya non muslim. Pada saat Islam datang hanya 17 orang Qurasy yang bisa baca tulis. Di Madinah tempat belajar ditambah mesjid, materi yang diajarkan ditambah; pendidikan kesehatan dan kemasyarakatan. Sistemnya halaqah. Metodenya; tanya-jawab, demontrasi dan uswah hasanah, murid disebut dengan ashhabush shuffah (Nizar, 2007: 5-22, dan Asari, 1994: 27).

Pendidikan pertama yang dilakukan Nabi, ialah memperkuat persatuan kaum muslimin dan mengikis habis-habisan sisa-sisa permusuhan persukuan. Lalu nabi mempersatukan dua orang. Mula-mula di antara sesama Muhajirin, kemudian di antara Muhajirin dan Anshar. Dengan lahirnya persatuan itulah persaudaraan kaum muslimin bertambah kokoh.

Rasulullah SAW adalah seorang komunikator yang handal. Seorang teladan luar biasa yang sepantasnya kita tiru. Berikut ini adalah beberapa tips yang diangkat dari teladan beliau dalam berkomunikasi:

  1. Rasulullah SAW adalah sosok yang fasih berbicara. Sedikit bicara namun penuh makna,mudah dimengerti, dan tidak menyinggung perasaan orang yang diajak berbicara.
  2. Ketika ada yang salah dan harus dihukum, maka hukumlah dengan adil tanpa harus menghinakannya.
  3. Berikan motivasi perbaikan diri kepada orang yang dihukum dan sudah menysali kesalahannya, bukan malah menghina atau mencemoohnya.
  4. Berkatalah yang baik ketika mendapat musibah. Lakukan introspeksi. Tidak menyalahkan siapapun apalagi menghujat Allah SWT.
  5. Berkatalah yang baik atas orang yang sudah meninggal, kecuali untuk penulisan sejarah, boleh ditulis sewajarnya berdasarkan fakta yang ada.
  6. Rasulullah berpesan kepada perempuan untuk berbicara dengan cara yang baik dengan tidak mempermainkan suaranya
  7. Berdakwah dengan cara yang terbaik yaitu dengan lemah lembut. Kalaupun harus berdebat, lakukan dengan cara yang paling baik.

Berkomunikasi kepada siapapun beliau sangat berhati-hati dalam mengeluarkan tiap patah kata. Kepada orang yang lebih tua, Rasulullah sangat menghormati, dan kepada yang lebih muda, Rasulullah menyayangi. Apalagi kepada anak kecil, beliau sangat menyukai mereka. Bahkan ketika beliau bersama anak-anak kecil, beliau ikut bermain dengan mereka. Begitu sangat rendah hati rasulullah dalam hal mendidik orang-orang disekitarnya.

Ada bermacam-macam komunikasi yang dilakukan Rasulullah dalam menyampaikan dakwah, mendidik lingkungan. keberhasilan Rasulullah SAW mendidik para sahabat menjadi generasi terbaik, tak terlepas dari sistem dan metoda mendidik yang digunakan. Ada enam pilar yang menjadi tumpuan Rasulullah SAW mendidik para sahabatnya yaitu lemah lembut, memberi pujian, memperhatikan waktu, bertahap, argumentasi yang jelas dan mengurangi kesenjangan antara guru dan murid.

Dalam kajian Islam model pembelajaran sudah diajarkan oleh Rasulullah saw, mulai dari yang klasik hingga saat ini dikembangkan oleh para Ilmuwan Barat. Bagaimanapun secara tidak langsung mereka terinspirasi dari agama Islam yang telah dicantumkan oleh Rasulullah saw, seperti metode ceramah, metode dialog dan tanya jawab, metode qishah (cerita), metode tamtsil (pemisahan), metode targhib (motivasi), metode tarhin (menakut – nakuti), metode qasam (sumpah), metode keteladanan dan yang lain-lain.

Proses penyampaian materi yang dilakukan Rasulullah dapat menjadi menarik dengan menggunakan metode yang tepat sesuai kadar materi yang sedang dibahas. Namun beliau juga tidak jarang dalam menggunakan metode bermain untuk menghilangkan suasana tegang. Sehingga setiap pelajaran yang diberikan oleh Rasulullah dapat diterima dengan baik serta menjadi amalan bagi peserta didiknya.

Dalam dewasa ini, yang dibutuhkan oleh peserta didik dan pendidik harus melengkapi satu sama lain. Saling memahami antara satu dengan yang lainnya, agar tidak terjadi hilang komunikasi. Komunikasi yang salah di antara anak didik dan pendidik akan mengakibatkan kesenjangan sosial, kelirunya pemahaman pada ilmu, dan berimbas pada buruknya pempraktekkan.

Berita Lainnya

Tamu dari Rajadesa

Siang menjelang acara penyematan lencana Pramuka Garuda di lapangan komplek Pesantren Sabilirrosyad, Ust. Basuni sebagai